Tahu tidak, kalau kita telah berpikiran salah pada orang yang belum kita kenal, akhirnya kita bisa menjadi benci pada orang itu? Tahu tidak, kalau ternyata benci dan cinta itu batasnya lebih tipis dari yang selama ini digembar-gemborkan dalam novel-novel roman atau bahkan cerita remaja-remaja labil? Tahu tidak, kalau ternyata kebahagiaan bisa datang dengan cara yang tidak terduga? Dan tahu tidak, kalau ternyata cinta itu bukanlah cinta biasa karena memang tidak ada cinta yang biasa saja.
Semua berawal ketika aku baru saja kembali dari course ku di London selama setahun. Saat itu, walaupun satu setengah tahun berlalu dan aku telah kembali, suasana hatiku masih kurang baik. Aku masih sering uring-uringan, serba salah dan serba tak enak. Kemudian, aku datang kembali ke tempat itu. Sepi, sama seperti satu setengah tahun lalu saat orang itu pergi. Aku melongok ke dalam. Tak ada orang. Tapi sepertinya tempat itu telah ada yang menghuninya. Tapi kenapa mama tidaak bilang padaku?
Aku terus melayangkan pandanganku ke dalam tempat itu. Saat kupegang kenop pintunya, terdengar bunyi ‘klek’ yang menandakan tempat itu tidak terkunci. Mungkin sekarang telah ada yang tinggal di situ. Ketika aku merasa ada sesuatu yang mendekat, aku menoleh dan tiba-tiba saja ia muncul mengagetkanku. Aku benar-benar kaget dan berteriak, lalu masuk ke dalam tempat itu dan menguncinya. Siapa dia? Aku sama sekali tidak tahu siapa laki-laki itu.
Dia pun sepertinya kaget dengan kehadiranku karena saat aku berteriak, dia pun melakukan hal yang sama, sehingga ia terjatuh dan payang yang dipakainya hampir terlempar. Ya, hari itu memang turun hujan, walaupun tidak besar. Kemudian, ketika aku masuk ke dalam tempat itu dan mengunci pintunya, dia mengetuk-ngetuk agar aku membukakan pintu untuknya. Yang kupikirkan saat itu hanyalah siapa dan mau apa dia sebenarnya. Jangan-jangan dia adalah orang jahat.
Dia terus mengetuk-ngetuk agar aku membuka pintunya dan meyakinkanku bahwa dia bukan orang aneh atau orang jahat. Aku tak bergeming. Namun, setelah kuyakin dia memang tidak bermaksud jahat, aku pun membukakan pintu. Dia langsung menghambur ke dalam dan menghampiriku yang sedang duduk di sisi kasur dekat jendela geser. Aku menanyakan siapa dia dan mau apa dia di sini. Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya, mengajakku berjabat tangan sambil menyebutkan namanya. Yudhit. Dia juga berkata bahwa dia berasal dari Jakarta. Ia menebak bahwa aku adalah putri dari pemilik tempat yang ia tinggali ini, bahkan meminta bantuanku karena dia masih baru di sini. Aku hanya menoleh tanpa membalas jabat tangannya. Lalu aku berdiri dan berkata bahwa dia tidak boleh tinggal di sini. Dia terlihat kaget, bertanya kenapa dia tidak boleh tinggal padahal dia telah membayar uang sewa untuk satu tahun, dan dia baru tinggal di sini selama enam bulan. Aku tidak peduli. Aku berkata akan mengembalikan uangnya, dan kemudian aku beranjak dari tempat itu.
Esoknya aku mengembalikan uang sewa yang telah dibayarkannya pada mama. Sebenarnya mama melarangku melakukannya, karena selain tidak sopan, menurut mama dan papa Yudhit adalah orang yang baik. Aku tidak peduli. Aku mengambil tabunganku di bank untuk mengembalikan uang sewa padanya. Dia terlihat enggan menerima uang itu dan berusaha membujukku untuk tidak menyuruhnya pergi. Aku memandangnya selama beberapa detik, lalu menaruh uang itu di meja. Aku mengacungkan dua jariku sambil berkata ‘dua hari’. Ya, aku memberinya waktu selama dua hari untuk menemukan tempat tinggal baru. Mungkin aku terlihat sangat jahat dan tidak sopan, karena tempat itu hanyalah sebuah rumah sederhana dengan konsep minimalis yang ada di sebelah rumah yang kutempati bersama orang tuaku. Tapi bagiku tempat itu sangat berarti. Ada banyak kenangan di sana, dan aku tidak mau ada yang mengambil alih tempat itu.
“I’m so tired of being here, surprised by all my childish fears. And if you have to leave, I wish that you would just leave. Cause your presence still lingers here, and it won’t leave me alone. These wounds wont seem to heal. These pain is just to real. There’s just too much that time cannot erased…”
Ketika aku kembali dari kampus, aku melihat Yudhit tengah mengobrol bersama mama di teras depan rumahku. Saat melihatku masuk, mama berdiri dan berkata bahwa Yudhit mencariku dan kemudian beliau masuk ke dalam. Aku menghampiri Yudhit, berdiri di depannya. Dia menepuk-nepuk kursi, menyuruhku duduk di sebelahnya. Keningku berkerut. Memang ini rumahnya? Kenapa dia yang menyuruhku duduk? Namun kali ini aku menurutinya dengan duduk di sampingnya. Dia tersenyum memandangku, lalu mengulurkan tangannya dan menarik tanganku. Aku terbelalak kaget. Apa maksudnya seperti itu? Tapi kemudian ia meletakkan sebuah amplop berwarna cokelat dan berkata bahwa ia tidak akan pergi dari tempat itu. Ia tidak peduli apakah aku akan terus datang dan mengganggunya dengan menyuruhnya pergi atau apa. Bahkan dia berkata bahwa dia akan senang sekali jika aku datang. Dia kembali tersenyum, dan beranjak pergi kembali ke rumah di sebelah rumahku. Aku ternganga tak percaya. Dasar orang aneh.
Beberapa waktu telah berlalu, dan aku masih saja gagal menyuruhnya untuk pergi. Sampai di suatu sore dia datang dengan membawa setangkai mawar merah dan berdiri di teras depan rumahku. Saat aku keluar untuk mengtahui apa maunya, dia menggigit tangkai mawar itu dan bertepuk tangan sambil mengedipkan matanya. Lalu dia memberikan mawar itu padaku sambil berkata bahwa tadi adalah tarian ala Zorro. Aku berusaha menahan tawaku dengan mengerutkan keningku dan menyipitkan mataku. Zorro dari mananya? Dia memandangku karena aku tidak juga mengambil mawarnya. Kemudian, seperti menyadari sesuatu, dia mengambil sapu tangan dari saku celananya dan menggulungkannya di tangkai mawar yang ia pegang. Dan, kejadian itu terulang lagi. Dia menarik tanganku dan menaruh mawar bersapu tangan itu dalam genggamanku. Lalu, ia tersenyum dan kembali ke tempatnya. Aku masuk ke dalam rumah dengan menggenggam mawar Zorronya sambil tertawa. Tapi mawar itu mengingatkanku pada sesuatu. Pada seseorang yang telah pergi.
“I tried so hard to tell my self that you’re gone. But though you’re still with me, I’ve been alone all along…”
Setelah hari itu, setiap hari aku mendapatkan setangkai bunga mawar di teras rumahku. Entah itu mawar merah atau putih. Mama bilang begitu keluar rumah mawar itu telah ada di sana. Aku curiga Yudhit yang mengirimkannya, karena aku sering melihatnya tersenyum dari dalam mobilnya saat melihatku memegang mawar. Orang aneh. Sampai suatu hari, dia mengajakku untuk pergi ke pantai. Aku menolaknya, tapi dia memaksaku dengan menarikku ke dalam mobilnya. Aku bilang ini adalah penculikan, namun dengan penuh percaya diri dia bilang tidak apa-apa kalau penculiknya setampan dia. Dasar orang aneh yang narsis.
Sesampainya di pantai, dia mengambil dua buah payung dari bagasi mobilnya dan memberikannya satu padaku. Dia bilang akan mengajakku surfing, tapi aku sama sekali tidak melihat ombak yang bagus untuk surfing. Lagipula aku tidak bisa berenang dan tidak membawa peralatan untuk surfing. Dia menarikku ke sebuah toko di pinggir pantai yang menjual pernak-pernik berbau laut. Kemudian dia tersenyum dan menunjuk dua papan surfing di pojok toko, lalu mengajakku untuk menaikinya. Katanya, kita tetap dapat surfing walaupun tidak bisa berenang. Dia membuka payungnya ketika naik ke atas papan itu, lalu bertingkah seolah-olah ia berada di tengah ombak yang bagus dan berteriak sambil bergoyang-goyang mengikuti ombak yang ada di imajinasinya itu. Aku tertarik dan mengikutinya. Tapi ternyata tidak semudah yang kubayangkan, sehingga Yudhit harus memegangi tanganku dan kami berdua surfing di atas papan di dalam toko sambil berpayungan dan berteriak seolah-olah kami ada di tengah laut. Idiot memang. Tapi cukup menyenangkan.
Setelah itu kami berjalan di atas pasir putih. Sesekali dia merunduk, mengambil kerang dan menempelkannya di telinganya, lalu beralih ke telingaku. Ada suara laut di dalamnya. Tapi, katanya, suara laut itu belum tentu benar. Terkadang itu hanya sugesti orang saja karena kerang itu memang ada di pinggir pantai seperti ini. Kemudian dia melemparkan kerang itu ke air dan berteriak. Aku memperhatikannya. Dia terus berteriak. Lalu dia menantangku untuk berteriak melawannya, dan melawan semua beban di pikiran. Aku tidak mau, tapi kemudian dia menggodaku bahwa aku takut kalah. Akhirnya aku terjerumus juga dalam arena itu. Adu teriak di pinggir pantai. Benar saja, aku merasa lega setelah berteriak-teriak seperti itu. Dia berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja dan menarik tanganku menuju mobil untuk pulang. Ya, semuanya akan baik-baik saja. Aku harus bangkit. Kadang kebahagiaan memang sulit untuk dilupakan. Sulit tapi pasti bisa.
Sejak saat itu sikapku menjadi lebih ramah pada Yudhit. Aku membalas senyumnya jika dia tersenyum padaku, menyapanya jika dia menyapaku. Bahkan kadang kami pergi berkeliling bersama di akhir minggu. Dan entah kenapa belakangan ini aku merasa bahwa senyumnya manis sekali. Ah, padahal sebelumnya aku sebal sekali pada senyumnya itu. Entahlah. Tapi yang jelas sekarang aku lebih menikmati hidup dari sebelumnya. Mama bilang, aku tengah jatuh cinta. Aku hanya tertawa menanggapinya. Apa iya? Dan malam itu aku, saat aku berada di balkon untuk menghirup udara segar sehabis hujan, aku mendapatkan Yudhit berada di halaman rumahku dengan membawa gitar. Ketika melihatku, ia tersenyum dan mulai bernyanyi sambil memainkan gitar, yang menurutku lebih ke arah teriak daripada bernyanyi.
“pernahkah terlintas sesaat di benakmu kau ingin aku?
pernahkah gelisah merasuki hatimu kau ingin hadirku?
memang aneh tapi nyata bila kau dan aku jadi satu
bukan berarti tak mungkin bisa
karena dirimu yang aku mau
ku akan mengajakmu untuk lebih jauh
ku tergila-gila kepadamu, ku telah jatuh hati lebih jauh
itu yang ku mau untuk lebih dalam
ku tergila-gila kepadamu, ku telah jatuh hati lebih jauh
itu yang ku mau
percayalah tak ada yang tak mungkin bila hati ini telah bicara
biarkan semua mengalir apa adanya
karena dirimu yang aku mau
kubiarkan diriku untuk lebih jauh
tak perlu lagi kita membuang waktu
berikanlah satu kesempatan mengisi hari demi hari
katakan kau mau untuk lebih dalam”
Aku tertawa melihat tingkah makhluk satu ini. Entah kenapa selalu saja ada ide-ide gila yang mengalir di otaknya. Tapi di satu sisi aku merasakan pipiku panas. Yah, mungkin warnanya seperti kepiting rebus sekarang. Untuk mengalihkannya, aku berteriak padanya bahwa ia seperti orang gila karena membuat konser malam-malam di halaman rumah orang. Tapi kemudian dia menggodaku dengan berkata, ‘tapi suka kan?’ dasar! Aku tertawa, dan dia terlihat malu-malu sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Hari ini Yudhit mengajakku ke Stasiun Tugu untuk menjemput sahabatnya sejak kecil. Katanya, dia sudah lama tidak bertemu dengan sahabatnya ini. Sekarang sahabatnya datang untuk menjenguknya, sekaligus mencari cintanya yang hilang. Aku tertawa kecil, terdengar seperti sinetron. Tapi aku sangat senang melihat antusiasme Yudhit. Dia pasti sangat merindukan sahabatnya itu.
Yudhit menggandengku menuju peron tempat kereta yang ditumpangi sahabatnya itu berhenti. Kami menoleh ke segala arah mencari sahabatnya ketika para penumpang dari kereta itu turun. Dan, aku kembali melihatnya. Melihat orang itu. Orang yang dua tahun lalu pergi begitu saja dengan alasan akan melanjutkan sekolahnya, dan meninggalkanku tanpa kepastian apapun. Dan ternyata dia adalah sahabat Yudhit. Ya, Bagas adalah sahabat Yudhit. Aku benar-benar kaget saat mengetahuinya. Namun aku usahakan untuk tersenyum saat menjabat tangannya. Sepertinya Bagas juga kaget karena dia terlihat agak kikuk.
“Selang waktu berjalan kau kembali datang. Tanyakan keadaanku. Kubilang, ‘kau tak berhak tanyakan hidupku…’”
Aku sama sekali tidak menyangka kalau Bagas adalah sahabat Yudhit sejak kecil. Aku hanya diam saja di jok belakang mobil ketika Yudhit dan Bagas mengobrol, walaupun aku sadar bahwa Bagas kurang nyaman dengan situasi ini. Sama sepertiku. Tapi aku sama sekali tidak mau menyakiti Yudhit, maka aku diam saja di belakang. Lalu, aku jadi berpikir mengenai tujuan Bagas datang ke sini untuk mencari cintanya yang hilang. Apa dia bermaksud mencariku? Kalau iya, apanya yang hilang? Dia yang meninggalkanku tanpa kepastian. Itu tidak bisa disebut hilang kan?
Yudhit mengajak Bagas ke pantai. Lalu, entah hobi atau bagaimana, dia mengajak Bagas surfing di toko itu lagi seperti dia mengajakku waktu itu. Aku tertawa melihat kekonyolan mereka berdua karena tingkah mereka saat ini jauh lebih bodoh dari aku dan Yudhit pada waktu itu. Kemudian, setelah surfing di toko itu, kami berjalan menyusuri pasir putih. Yudhit dan Bagas banyak mengobrol, sedangkan aku lebih memilih diam dalam genggaman tangan Yudhit. Ketika aku mulai lelah, Yudhit kemudian berjongkok di depanku dan menawarkan untuk menggendongku di punggungnya. Aku menolaknya, tapi dia memaksa dan akhirnya kuturuti kemauannya. Aku melingkarkan tangan di lehernya, menyandarkan kepalaku di bahunya dan perlahan-lahan menutup mataku. Tapi aku belum tertidur, hanya mataku saja yang tertutup.
Kudengar Bagas bertanya pada Yudhit bagaimana hubungannya denganku. Aku bisa mendengarnya dengan jelas karena memang aku belum tertidur walau mataku sudah tertutup. Yudhit berkata bahwa tidak pernah terpikirkan olehnya akan bertemu denganku. Aku yang menurutnya berkarakter dan tidak lembut. Tapi walaupun begitu, aku membawa cinta untuknya. Sebenarnya aku tidak suka Yudhit bilang kalau aku tidak lembut. Kemudian Yudhit melanjutkan bahwa ia akan terus ada di sampingku dan Bagas mengucapkan selamat padanya. Aku mempererat pelukanku padanya karena tanpa disangka-sangka dia membawa kebahagian baru padaku walaupun dengan awal yang tidak biasa. Dan aku telah memilih Yudhit, walaupun Bagas kembali lagi. Kebahagiaan memang bisa saja datang dengan cara yang tak terduga, yang dibawa oleh orang yang tak terduga juga. Sebelumnya aku tidak pernah berpikir bahwa kebahagiaan itu akan datang lagi padaku setelah semua ini. Tapi nyatanya dia datang lewat Yudhit, yang sebenarnnya lebih cocok menjadi seorang pelawak daripada seorang arsitek. Mungkin jika dia sudah tidak laku lagi sebagai arsitek, aku akan mengusulkan dia untuk beralih profesi menjadi pelawak saja.
This could have been just another day, but instead we're standing here
No need for words it's all been said in the way you hold me near
I was alone on this journey, you came along to comfort me
Everything I want in life is right here
'Cause this is not your ordinary, no ordinary love
I was not prepared enough to fall so deep in love
This is not your ordinary, no ordinary love
You were the first to touch my heart
And everything's right again with your extraordinary love
I get so weak when you look at me
I get lost inside your eyes
Sometimes the magic is hard to believe, but you're here before my very eyes
You brought joy to my world, set me so free
I want you to understand, you're every breath that I breathe
From the very first time that we kissed
I knew that I just couldn't let you go at all
From this day on, remember this:
That you're the only one that I adore
Can we make this last forever
This can't be a dream
'Cause it feels so good to me
Monday, March 14, 2011
Tuesday, March 8, 2011
not really a facemaker
halo, bertemu lagi dengan saya di sini heheheh
okeh, langsung aja deh ya
jadi gini ceritanya.....
gimanya ya mulainya? hem hem hem
jadi gini, ada seseorang *cailah*, gue manggilnya facemaker
awalnya sih gak gue panggil gitu, gue menyebut dia dengan merk obat hehehehe
jadi ceritanya temen gue pernah suka sama dia (duh gue pengen ketawa kalo inget ini)
dan dia jadi galau gara-gara ni cowok
gue sama anak-anak kerjaannya ngecengin temen gue itu kan
nah, waktu itu kan ada acara di kampus pas akhir semester satu
si mr. facemaker yang belom disebut facemaker itu dateng
trus dia kayak ngeliat gue gimanaaaa gitu dari dalem ruangan
eh buset, emang gue setan apa dia sampe segitunya?
ato dia ngira gue mas-mas kayak yang orang kira selama ini? (--")a
yah, pokoknya gue menilai dia itu tukang tepe lah sejak saat itu
apalagi waktu temen gue nyuruh gue buat nge-add facebooknya
dan isinya.... ahahahahahah tuh kan, tepe!!!
waktu terus berjalan, dia jadi berubah *tenang, ini bukan iklan sabun muka dan sebagainya yang tiba-tiba si model jadi keren*
jadi beda aja, gak keliatan polosnya lagi *dia dulu polos loh, walau kata gue tepe juga hehehehe*
yaudah, gue sih bodo amat asal dia gak macem-macem ma gue kan
dan... jengjengjeng~~~
he became a facemaker
istilah ini gue yang bikin sebenernya, karena menurut gue dia jadi suka making a face gitu
jadi tepe, dan ekspresinya suka berubah-ubah (yang menurut gue itu dibuat-buat)
gue gak pernah ngomong sama dia
gue cuma liat dia dari jauh *ih tinlit banget deh cuih*
tapi pas abis lebaran kemaren dia nyamperin gue, ngajak salaman sambil bilang, "minal aidin ya pit..."
gue kelabakan, dikirain gak bakal nyamperin tu anak, yaudah gue jawab, "sama-sama..."
yah pokoknya gitu deh
pikiran gue tentang dia gak berubah: dia itu facemaker
tukang bikin-bikin ekspresi hehehehehe
sampe semester empat ini
semester ini gue entah kenapa ketemu mulu sama ni anak
ternyata di balik ke-facemaker-an nya, dia baik kok
gak facemaker facemaker amat hahahahaha
tapi kalo soal tepe mah, tetep!
gak kalah deh dia sama don juan duren tiga hahahahaha
dan, yah, gitu deh...
intinya dia baik
intinya, ternyata apa yang lo kira, lo pikir atas sesuatu atau seseorang yang lo belom kenal itu, belum tentu bener
buktinya? ya si facemaker itu hehehehe
yah, walaupun anggapan gue ada yang bener juga yaaa hehehehe
duh, dasar facemaker hahahahahahaha

(bisa bikin galau juga ternyata)
okeh, langsung aja deh ya
jadi gini ceritanya.....
gimanya ya mulainya? hem hem hem
jadi gini, ada seseorang *cailah*, gue manggilnya facemaker
awalnya sih gak gue panggil gitu, gue menyebut dia dengan merk obat hehehehe
jadi ceritanya temen gue pernah suka sama dia (duh gue pengen ketawa kalo inget ini)
dan dia jadi galau gara-gara ni cowok
gue sama anak-anak kerjaannya ngecengin temen gue itu kan
nah, waktu itu kan ada acara di kampus pas akhir semester satu
si mr. facemaker yang belom disebut facemaker itu dateng
trus dia kayak ngeliat gue gimanaaaa gitu dari dalem ruangan
eh buset, emang gue setan apa dia sampe segitunya?
ato dia ngira gue mas-mas kayak yang orang kira selama ini? (--")a
yah, pokoknya gue menilai dia itu tukang tepe lah sejak saat itu
apalagi waktu temen gue nyuruh gue buat nge-add facebooknya
dan isinya.... ahahahahahah tuh kan, tepe!!!
waktu terus berjalan, dia jadi berubah *tenang, ini bukan iklan sabun muka dan sebagainya yang tiba-tiba si model jadi keren*
jadi beda aja, gak keliatan polosnya lagi *dia dulu polos loh, walau kata gue tepe juga hehehehe*
yaudah, gue sih bodo amat asal dia gak macem-macem ma gue kan
dan... jengjengjeng~~~
he became a facemaker
istilah ini gue yang bikin sebenernya, karena menurut gue dia jadi suka making a face gitu
jadi tepe, dan ekspresinya suka berubah-ubah (yang menurut gue itu dibuat-buat)
gue gak pernah ngomong sama dia
gue cuma liat dia dari jauh *ih tinlit banget deh cuih*
tapi pas abis lebaran kemaren dia nyamperin gue, ngajak salaman sambil bilang, "minal aidin ya pit..."
gue kelabakan, dikirain gak bakal nyamperin tu anak, yaudah gue jawab, "sama-sama..."
yah pokoknya gitu deh
pikiran gue tentang dia gak berubah: dia itu facemaker
tukang bikin-bikin ekspresi hehehehehe
sampe semester empat ini
semester ini gue entah kenapa ketemu mulu sama ni anak
ternyata di balik ke-facemaker-an nya, dia baik kok
gak facemaker facemaker amat hahahahaha
tapi kalo soal tepe mah, tetep!
gak kalah deh dia sama don juan duren tiga hahahahaha
dan, yah, gitu deh...
intinya dia baik
intinya, ternyata apa yang lo kira, lo pikir atas sesuatu atau seseorang yang lo belom kenal itu, belum tentu bener
buktinya? ya si facemaker itu hehehehe
yah, walaupun anggapan gue ada yang bener juga yaaa hehehehe
duh, dasar facemaker hahahahahahaha

(bisa bikin galau juga ternyata)
Saturday, February 26, 2011
Sadis
bukan, ini bukan berarti gue orang yang sadis
tapi gue emang mau cerita tentang balas dendam yang manis kayak albumnya MCR
jadi gini ceritanya.....
waktu bulan februari 2009 kan gue ikut lomba ekonomi tingkat nasional di kampus gue
gue sekelompok sama echi sama si ubis
trus di lomba itu gue ketemu orang yang pernah ikut lomba di bogor waktu taun 2008
dan, di lomba itu juga ada adek kelas dia. dia disebut x aja yah
nah, di lomba itu, yang gue akuin emang susah, gue dan temen-temen gue cuma sampe quarter final
yah, lumayan lah
gue bersyukur walaupun agak kecewa dan gak enak juga sama bu sun
tapi ada satu yang bikin gue geregetan: si x curang!
dia ngasih tau semua hal, termasuk pengumuman siapa yang lolos di lomba itu (dan gue curiga, jangan-jangan soalnya juga ato dikasih yang gampang sama si x itu) ke adek kelasnya itu
ahelah kampret banget deh
bikin emosi. gue gak suka banget
abis itu cuma bisa ber-sadis-ria aja
"semoga Tuhan membalas semua yang terjadi kepadaku, suatu saat nanti~"
aaahhhh keseeeelll rasanya
bukan karena kalah, tapi karena curangnya itu loh
pengen gue lempar pake kapak rasanya
akhirnya, bulan mei di tahun yang sama gue ikut lagi lomba di bogor itu
lomba yang waktu taun 2008 dimenangin sama x
seperti biasa, sekolah gue ngirim 4 tim
dan sekolah si x cuma ngirim 1 tim
bukannya sombong, tapi dari pertama liat tim dari sekolah x itu gue udah pesimis mereka bakal menang hehehehehe
dan bener aja, sekolah si x gak masuk final dan sekolah gue masuk final empat-empatnya hahahahaha
dan alhamdulillah gue dapet juara satu wahahahahahahaha
bener-bener kebales deh
gue seneng banget
biar, biar dia liat kalo main bersih itu hasilnya bakal bagus hehehehehe
what a sweet revenge :D
tapi gue emang mau cerita tentang balas dendam yang manis kayak albumnya MCR
jadi gini ceritanya.....
waktu bulan februari 2009 kan gue ikut lomba ekonomi tingkat nasional di kampus gue
gue sekelompok sama echi sama si ubis
trus di lomba itu gue ketemu orang yang pernah ikut lomba di bogor waktu taun 2008
dan, di lomba itu juga ada adek kelas dia. dia disebut x aja yah
nah, di lomba itu, yang gue akuin emang susah, gue dan temen-temen gue cuma sampe quarter final
yah, lumayan lah
gue bersyukur walaupun agak kecewa dan gak enak juga sama bu sun
tapi ada satu yang bikin gue geregetan: si x curang!
dia ngasih tau semua hal, termasuk pengumuman siapa yang lolos di lomba itu (dan gue curiga, jangan-jangan soalnya juga ato dikasih yang gampang sama si x itu) ke adek kelasnya itu
ahelah kampret banget deh
bikin emosi. gue gak suka banget
abis itu cuma bisa ber-sadis-ria aja
"semoga Tuhan membalas semua yang terjadi kepadaku, suatu saat nanti~"
aaahhhh keseeeelll rasanya
bukan karena kalah, tapi karena curangnya itu loh
pengen gue lempar pake kapak rasanya
akhirnya, bulan mei di tahun yang sama gue ikut lagi lomba di bogor itu
lomba yang waktu taun 2008 dimenangin sama x
seperti biasa, sekolah gue ngirim 4 tim
dan sekolah si x cuma ngirim 1 tim
bukannya sombong, tapi dari pertama liat tim dari sekolah x itu gue udah pesimis mereka bakal menang hehehehehe
dan bener aja, sekolah si x gak masuk final dan sekolah gue masuk final empat-empatnya hahahahaha
dan alhamdulillah gue dapet juara satu wahahahahahahaha
bener-bener kebales deh
gue seneng banget
biar, biar dia liat kalo main bersih itu hasilnya bakal bagus hehehehehe
what a sweet revenge :D
Tuesday, February 22, 2011
jika aku harus memilih, maka aku tidak akan memilih
sekarang kata-kata rizky hanggono di film ungu violet itu udah gak gue pegang lagi
kalo dulu-dulu gue akan terus jalan dengan dua atau lebih opsi di tangan, sekarang gue harus pilih. salah satu.
gue nulis ini gak bermaksud pamer, narik simpati ato meminta belas kasihan. gak kok, cuma sekedar sharing hehehehe
ehem,
buat yang cukup dekat sama gue pasti tau kalo belakangan ini gue lagi super duper galau
JYJ mau dateng ke Indonesia tanggal 9 April nanti
dan untuk bisa melihat mereka kita harus punya tiket
dan tiket itu rebutan sama ratusan, ribuan, puluhan ribu ato berapalah fans mereka yang juga mau nonton *tiket di bangkok abis dalam waktu 5 menit. gila*
selain itu, buat dapet tiket gue harus punya.... DUIT
iya, duit. apa sih jaman sekarang yang gak pake duit?
yang cukup deket sama gue juga pasti tau ini: gue bokek melulu
kadang geu kasihan sama diri gue, karena bernasib bokek hehehe
tapi gue gak nyesel
justru karena keadaan ini gue jadi lebih bisa menghargai uang
bisa lebih mandiri
okeh, balik lagi ke masalah tiket JYJ
awalnya diprediksi antara 500rb sampai 4 juta
oke, bagus banget gue ngerampok atm di kampus apa?
ato seperti kata nepi, gue ngepet aja?
mahal abis deh ah
tapi kenyataannya gak sampe segitu. cuma 500rb sampe 2,5 juta
CUMAAAAAA??????
gue galau dan mulai membuat kotak jeje (jeje itu panggilannya Jaejoong, personel JYJ)
tapi karena gue juga butuh buku, maka gue memutuskan buat melepas kotak jeje itu sehingga iya berpulang ke Rahmatullah
toh waktu itu juga belom jelas apa JYJ jadi dateng apa gak
jadi duitnya gue pake buat beli buku sama ngalay bareng si indro dan nepi dan eka dan lain-lain hehehehehe
ternyata eh ternyata JYJ jadi dateng cuy!!!
gila, si priska makin galau junsu. sedangkan anprit dan iyo galau yoochun
mau gak mau (pasti) gue ikutan galau (lagi) *apalagi ada temen gue yang bilang kalo ini tuh seperti dream come true*
mau nontooooooonnnnnn~~~
mau liat jeje nyanyi secara live huhuhuhuhu
gue dan anak-anak pun menyusun rencana dibantu nepi, selpi dan si indro
gue mulai nabung lagi
tapi di satu sisi gue pesimis bakal dapet tiketnya secara fans di sini pada gila juga
berapapun mereka bersedia buat bayar
gue mana masuk itungan
apalagi pas gue tanya anak-anak ternyata tabungan gue cuma ada satu per TIGA PULUH duit mereka
guling-guling deh kan gue
gue mulai nabung lagi dan giat jualan
sebenernya kepikiran juga sih mau pinjem duit
tapi, ah, masa mau nonton aja gue pinjem duit sih?
gue pengen minta bokap juga gak enak dan gak mungkin
bokap lagi gak ada duit dan sebentar lagi seratus harian nyokap
gue pengen jual kucing gue, tapi masa gue setega itu sih?
tapi, kayaknya gue bakal merubah prioritas gue. dan itu harus
gue harus bisa milih
dan sekarang, tiket JYJ bukan prioritas utama lagi buat gue
i've decided it
tadi sore, pas gue lagi main sama jiji, kucing gue, gue denger bokap lagi ngobrol di telepon sama temennya
bokap minta maaf karena gak bisa ngirim duit karena bokap sendiri bener-bener gak punya duit
terus pas mau berangkat sholat magrib tadi, pas kakak gue minta duit buat beli lauk, bokap bilang suruh pake duit kakak gue dulu soalnya sama sekali gak punya uang
gue gak enak
gue ngerasa kok tega banget ya, gue nyimpen duit buat beli tiket konser sedangkan keluarga gue sendiri punya kebutuhan?
gue egois banget
padahal beban bokap udah banyak banget selama ini
uang buat seharu-hari, ongkos kuliah gue, uang kuliah, ongkos bokap sendiri, ngirimin mbah putri dan adek-adeknya bokap, dan buat selamatan nyokap (nanti tanggal 3 maret nyokap 100 hari)
dan itu butuh biaya yang gak sedikit
sedangkan gue? gue malah cuma mikir mau liat jeje
gue ngerasa takut nyesel karena kapan lagi dia dateng ke Indonesia
gue agak takut jadi cengo pas yang lain ngomongin konser JYJ
yah gitu-gitu deh
gue akuin jeje emang bikin galau guling-guling gak karuan
tapi buat gue, bokap jauh lebih penting dari jeje
selama ini bokap yang selalu ada buat gue, nyokap dan kakak-kakak gue
jadi, tiket JYJ bukan lagi prioritas utama buat gue
kalo dapet ya syukur. kalo gak yaudah gak apa-apa
kalo kata selpi, yang penting udah usaha. masalah dapet apa gak nya itu urusan nanti
iyap, bener banget dan gue setuju
gue bakal terus usaha kok, ngumpulin duit
tapi gak diprioritaskan buat tiket itu
maka dari itu gak ada lagi kotak jeje jr. dan sebagainya hehehehe
dan buat yang udah bantu gue selama ini (terutama selpi, indro dan nepi sasmita petualang)
makasih banyak yah
gue sangat menghargai itu. sangat sangat sangat
dan lo pasti ngerti lah hehehehehe
prit, pris, yo nanti kalo gue gak dapet, gue titip oleh-oleh buat abang jeje yah
itu juga kalo gue punya duit hehehehe
dan gue juga minta diceritain hehehehe
gue bakal terus usaha buat ngumpulin uang walau itu bukan lagi prioritas
perkara dapet apa gak itu urusan belakangan hehehe
salam tempel,
savit
kalo dulu-dulu gue akan terus jalan dengan dua atau lebih opsi di tangan, sekarang gue harus pilih. salah satu.
gue nulis ini gak bermaksud pamer, narik simpati ato meminta belas kasihan. gak kok, cuma sekedar sharing hehehehe
ehem,
buat yang cukup dekat sama gue pasti tau kalo belakangan ini gue lagi super duper galau
JYJ mau dateng ke Indonesia tanggal 9 April nanti
dan untuk bisa melihat mereka kita harus punya tiket
dan tiket itu rebutan sama ratusan, ribuan, puluhan ribu ato berapalah fans mereka yang juga mau nonton *tiket di bangkok abis dalam waktu 5 menit. gila*
selain itu, buat dapet tiket gue harus punya.... DUIT
iya, duit. apa sih jaman sekarang yang gak pake duit?
yang cukup deket sama gue juga pasti tau ini: gue bokek melulu
kadang geu kasihan sama diri gue, karena bernasib bokek hehehe
tapi gue gak nyesel
justru karena keadaan ini gue jadi lebih bisa menghargai uang
bisa lebih mandiri
okeh, balik lagi ke masalah tiket JYJ
awalnya diprediksi antara 500rb sampai 4 juta
oke, bagus banget gue ngerampok atm di kampus apa?
ato seperti kata nepi, gue ngepet aja?
mahal abis deh ah
tapi kenyataannya gak sampe segitu. cuma 500rb sampe 2,5 juta
CUMAAAAAA??????
gue galau dan mulai membuat kotak jeje (jeje itu panggilannya Jaejoong, personel JYJ)
tapi karena gue juga butuh buku, maka gue memutuskan buat melepas kotak jeje itu sehingga iya berpulang ke Rahmatullah
toh waktu itu juga belom jelas apa JYJ jadi dateng apa gak
jadi duitnya gue pake buat beli buku sama ngalay bareng si indro dan nepi dan eka dan lain-lain hehehehehe
ternyata eh ternyata JYJ jadi dateng cuy!!!
gila, si priska makin galau junsu. sedangkan anprit dan iyo galau yoochun
mau gak mau (pasti) gue ikutan galau (lagi) *apalagi ada temen gue yang bilang kalo ini tuh seperti dream come true*
mau nontooooooonnnnnn~~~
mau liat jeje nyanyi secara live huhuhuhuhu
gue dan anak-anak pun menyusun rencana dibantu nepi, selpi dan si indro
gue mulai nabung lagi
tapi di satu sisi gue pesimis bakal dapet tiketnya secara fans di sini pada gila juga
berapapun mereka bersedia buat bayar
gue mana masuk itungan
apalagi pas gue tanya anak-anak ternyata tabungan gue cuma ada satu per TIGA PULUH duit mereka
guling-guling deh kan gue
gue mulai nabung lagi dan giat jualan
sebenernya kepikiran juga sih mau pinjem duit
tapi, ah, masa mau nonton aja gue pinjem duit sih?
gue pengen minta bokap juga gak enak dan gak mungkin
bokap lagi gak ada duit dan sebentar lagi seratus harian nyokap
gue pengen jual kucing gue, tapi masa gue setega itu sih?
tapi, kayaknya gue bakal merubah prioritas gue. dan itu harus
gue harus bisa milih
dan sekarang, tiket JYJ bukan prioritas utama lagi buat gue
i've decided it
tadi sore, pas gue lagi main sama jiji, kucing gue, gue denger bokap lagi ngobrol di telepon sama temennya
bokap minta maaf karena gak bisa ngirim duit karena bokap sendiri bener-bener gak punya duit
terus pas mau berangkat sholat magrib tadi, pas kakak gue minta duit buat beli lauk, bokap bilang suruh pake duit kakak gue dulu soalnya sama sekali gak punya uang
gue gak enak
gue ngerasa kok tega banget ya, gue nyimpen duit buat beli tiket konser sedangkan keluarga gue sendiri punya kebutuhan?
gue egois banget
padahal beban bokap udah banyak banget selama ini
uang buat seharu-hari, ongkos kuliah gue, uang kuliah, ongkos bokap sendiri, ngirimin mbah putri dan adek-adeknya bokap, dan buat selamatan nyokap (nanti tanggal 3 maret nyokap 100 hari)
dan itu butuh biaya yang gak sedikit
sedangkan gue? gue malah cuma mikir mau liat jeje
gue ngerasa takut nyesel karena kapan lagi dia dateng ke Indonesia
gue agak takut jadi cengo pas yang lain ngomongin konser JYJ
yah gitu-gitu deh
gue akuin jeje emang bikin galau guling-guling gak karuan
tapi buat gue, bokap jauh lebih penting dari jeje
selama ini bokap yang selalu ada buat gue, nyokap dan kakak-kakak gue
jadi, tiket JYJ bukan lagi prioritas utama buat gue
kalo dapet ya syukur. kalo gak yaudah gak apa-apa
kalo kata selpi, yang penting udah usaha. masalah dapet apa gak nya itu urusan nanti
iyap, bener banget dan gue setuju
gue bakal terus usaha kok, ngumpulin duit
tapi gak diprioritaskan buat tiket itu
maka dari itu gak ada lagi kotak jeje jr. dan sebagainya hehehehe
dan buat yang udah bantu gue selama ini (terutama selpi, indro dan nepi sasmita petualang)
makasih banyak yah
gue sangat menghargai itu. sangat sangat sangat
dan lo pasti ngerti lah hehehehehe
prit, pris, yo nanti kalo gue gak dapet, gue titip oleh-oleh buat abang jeje yah
itu juga kalo gue punya duit hehehehe
dan gue juga minta diceritain hehehehe
gue bakal terus usaha buat ngumpulin uang walau itu bukan lagi prioritas
perkara dapet apa gak itu urusan belakangan hehehe
salam tempel,
savit
Saturday, January 22, 2011
Jujur, saya iri...
gue ngiri banget sama indro
kemaren dia sms gue minta tolong ngecek-in SIAK-NG nya
irs nya udah disetujuin belom sama PA nya (PA di sini artinya bukan idiot ya, tapi Pembimbing Akademis)
pas banget gue lagi online, jadi gue buka lah om SIAK tersayang itu
pertama gue liat di riwayat akademisnya dulu, tulisannya belom disetujuin
terus gue buka irs nya dan emang belom disetujuin *gak percayaan banget ya gue orangnya*
langsung gue sms indro
tapi setelah beberapa detik sms nya terkirim, gak ada balesan padahal biasanya dia cepet bangt kalo bales sms
gue telepon aja, mumpung kompi gue emang deket telepon
pas gue mencet nomernya dia, gue menemukan pesan dari PA nya
PA nya nanya gimana kabarnya dia, terus ngomentarin nilai-nilai nya semester ini yang bagus-bagus *azekk dah indrooooo*, ngasih kritik juga, ngedoain biar si indro bisa cum laude (bahasa indonesia nya: kumlaut), nanyain nanti mau ambil PK (Program Kekhususan) berapa, dan nanya jumlah sks yang dia ambil udah fix apa belom karena masih bisa ditambah lagi
gue bilang sama indro di telepon kalo belom disetujuin tapi ada pesen dari PA nya
si indro pun minta tolong sama gue buat ngebales pesan dari PA nya itu
jujur ya, gue ngiriiiiiiii banget sama indro
PA gue ma selpi gak pernah nanya-nanya gitu
bukannya apa-apa, tapi gue sama selpi udah mati-matian banget bertarung di ladang fh *ajijiye bahasa gue*
ditanya apa kek. minimal nanya udah fix apa belom mata kuliah yang gue dan selpi ambil
ini kaga. langsung disetujuin gitu aja
yah, enak sih jadi kita gak usah ribet minta ini itu
tapi kan jadinya gak ada komunikasi
jadi berasa sendiri deh huhuhuhu
makanya, wahai kalian yang dapet PA yang perhatian, harap menggunakan waktu yang kalian punya dengan sebaik-baiknya *gak nyambung
oke deh, gitu aja
hanya mau menyampaikan keluh kesah lewat tulisan (padahal tadi udah sms selpi dan udah komen ke notes bpm dengan kata-kata yang songong, karena gue kira si meli yang ngetag gue hahahaha)
salam tempel *ngarep
kemaren dia sms gue minta tolong ngecek-in SIAK-NG nya
irs nya udah disetujuin belom sama PA nya (PA di sini artinya bukan idiot ya, tapi Pembimbing Akademis)
pas banget gue lagi online, jadi gue buka lah om SIAK tersayang itu
pertama gue liat di riwayat akademisnya dulu, tulisannya belom disetujuin
terus gue buka irs nya dan emang belom disetujuin *gak percayaan banget ya gue orangnya*
langsung gue sms indro
tapi setelah beberapa detik sms nya terkirim, gak ada balesan padahal biasanya dia cepet bangt kalo bales sms
gue telepon aja, mumpung kompi gue emang deket telepon
pas gue mencet nomernya dia, gue menemukan pesan dari PA nya
PA nya nanya gimana kabarnya dia, terus ngomentarin nilai-nilai nya semester ini yang bagus-bagus *azekk dah indrooooo*, ngasih kritik juga, ngedoain biar si indro bisa cum laude (bahasa indonesia nya: kumlaut), nanyain nanti mau ambil PK (Program Kekhususan) berapa, dan nanya jumlah sks yang dia ambil udah fix apa belom karena masih bisa ditambah lagi
gue bilang sama indro di telepon kalo belom disetujuin tapi ada pesen dari PA nya
si indro pun minta tolong sama gue buat ngebales pesan dari PA nya itu
jujur ya, gue ngiriiiiiiii banget sama indro
PA gue ma selpi gak pernah nanya-nanya gitu
bukannya apa-apa, tapi gue sama selpi udah mati-matian banget bertarung di ladang fh *ajijiye bahasa gue*
ditanya apa kek. minimal nanya udah fix apa belom mata kuliah yang gue dan selpi ambil
ini kaga. langsung disetujuin gitu aja
yah, enak sih jadi kita gak usah ribet minta ini itu
tapi kan jadinya gak ada komunikasi
jadi berasa sendiri deh huhuhuhu
makanya, wahai kalian yang dapet PA yang perhatian, harap menggunakan waktu yang kalian punya dengan sebaik-baiknya *gak nyambung
oke deh, gitu aja
hanya mau menyampaikan keluh kesah lewat tulisan (padahal tadi udah sms selpi dan udah komen ke notes bpm dengan kata-kata yang songong, karena gue kira si meli yang ngetag gue hahahaha)
salam tempel *ngarep
Tuesday, January 18, 2011
Hope is a dream that never sleeps
It doesn’t matter if I’m lonely, whenever I think of you
A smile spreads across my face.
It doesn’t matter if I’m tired, whenever you are happy
My heart is filled with love.
Today I might live in a harsh world again.
Even if I’m tired, when I close my eyes, I only see your image.
The dreams that are still ringing in my ears
Are leaving my side towards you.
Everyday my life is like a dream.
If we can look at each other and love each other
I’ll stand up again.
To me, the happiness of those precious memories
Will be warmer during hard times.
For me, hope is a dream that never sleeps.
Like a shadow by my side you always
Quietly come to me.
To see if I’m hurt, to see if I’m lonely everyday
With feelings of yearning, you come to me.
Even if the world makes me cry, I’m okay.
Because you are always by my side.
Like dust, will those memories change and leave?
I’ll keep smiling to ease my heart.
Everyday my life is like a dream.
If we can look at each other and love each other
I’ll stand up again.
To me, the happiness of those precious memories
Will be warmer during hard times.
For me, hope is a dream that never sleeps.
No matter how many times I stumble and fall
I’m still standing like this.
I only have one heart.
When I’m tired you become my strength.
My heart is towards you forever.
So I swallowed the hurt and grief.
I’ll only show you my smiling form.
It doesn’t even hurt now.
I’ll always hold on to the dreams I want to fulfill with you
I’ll try to call for you at the place I cannot reach
I love you with all my heart.
to: my friends
my friends...
the happiness shared together with great memories
and now,
the place we are together is a heaven, no matter where it is
thanks for the unforgettable journey with you
we'll never forget these moments
great time ever, there we are all together
p.s. diambil dari max's diary dengan beberapa perubahan kecil
ngena banget ya, sama kayak perasaan gue buat lo semua :))
the happiness shared together with great memories
and now,
the place we are together is a heaven, no matter where it is
thanks for the unforgettable journey with you
we'll never forget these moments
great time ever, there we are all together
p.s. diambil dari max's diary dengan beberapa perubahan kecil
ngena banget ya, sama kayak perasaan gue buat lo semua :))
Subscribe to:
Posts (Atom)